Oleh Iswan Sual
Tadi malam aku terhenyak dengar kabar
Tentang kelam yang datang
Lonceng berdentang
melingkupi desa
“Ibu guru kita telah berpulang ke alam baka.”
Padahal
kemarin engkau masih lincah
Menari-nari di
depan siswa
Menuangkan
makna-makna indah
tentang cita untuk bangsa
kini kau t’lah tiada, pahlawan
tanpa tanda jasa
Ibu guru, kenapa begitu lekas?
Kecewakah engkau karena kami tak menjadi
Seperti yang kau harap?
Sedihkah engkau karena didikkanmu
Tak jadi nyata dalam tiap langkah?
Sungguh, di
kala engkau mengajariku baca
Agar kelak aku
bisa melalangbuana
Jauh-jauh
menembus cakrawala
Sungguh, ketika engkau bercerita
Tentang Amerika, Eropa, negeri-negeri nun jauh di sana
Engkau berkata,
“Kejar impianmu, nak.
Kejar impianmu sampai ujung bumi.”
Dan engkau benar
Engkaulah guruku yang tak pernah berdusta
Bahkan demi kami kau mau menderita
Ibu guru,
lihat! Lihat! Langit pun mendung
Tak rela kau
pergi menghilang di awan-awan
Langit pun
ingin diajar bagaimana membaca
Menulis,
bersikap jujur,
menjadi panutan dalam tindak dan
tutur
Puluhan tahun keringatmu mengalir
Tapi tak satu pun kami sadar
Tak terkira peluh-peluh terkuras habis
Tak satu pun kami insaf
Ibu guru,
melihatmu terbujur kaku
Seakan harapan
kami ikut pupus
Berat rasanya
kami ditinggal
Berat rasanya
menerima kenyataan
Kaulah yang mengajarku menghitung
Menghitung bintang gemintang di angkasa
Kini kutahu kenapa
Kenapa aku mesti menghitung benda langit
Yang antah berantah berapa jumlahya
Kau ingin kami
menjadi bijaksana
Laksana Ganesa
tak surut meski telah rentah
Kau ingin kami
bahagia
Sebahagia
orang yang sejatinya bahagia
Kini kau telah tiada
Yang tinggal hanya pesona merona
Yang membekas hanya semangatmu yang tak patah
Tak lekang oleh waktu. Tak bisa punah
Malu kami
mengangkat muka
Kami yang muda
mengaku t’lah tua
Kami yang
masih bau kencur
Merasa sudah
usur berumur
Ibu guru, jasadmu akan terkubur
Tetapi semangat juangmu dalam sanubari
Takkan pernah luntur
Meski waktu terus gugur
Dalam hati
terukir dengan tinta emas
“Di kampung
kami, pernah hidup seorang wanita
yang tegas,
Yang selalu
bekerja keras.”
Ibu guru, jasamu tak sanggup kami balas
Hanya harap kami kirimkan ke atas
Selamat jalan ibu
Ingatlah kami bila olehNya kau telah dipangku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar